Ghost Veil

AB 5 – The Counterstrike

Ketika Bayangan Membalas Serangan

1. Gemuruh dari Jantung Sistem

Bukarest masih terbungkus kabut tipis ketika anomali itu lahir. Di kedalaman pusat data Quantex Inc., Node 11-A berdenyut tidak wajar. Pada layar monitor raksasa di ruang kendali, sebuah LED merah berkedip—hanya 50 milidetik—seperti detak jantung yang melompat.

Itu bukan sekadar gangguan arus. Itu adalah Stealth Infiltration yang sangat halus hingga hampir melewati ambang batas IDS (Intrusion Detection System).

Seorang teknisi muda mengernyit, tangannya melayang di atas mouse. Namun, sebelum kursornya menyentuh laporan log, notifikasi itu lenyap. Terhapus secara otomatis oleh skrip pembersih jejak yang bekerja lebih cepat dari syaraf manusia.

Tapi bagi Marius Dej, tidak ada yang benar-benar hilang.

Di markas bawah tanahnya yang kedap suara, Dej duduk tegak. Di depannya, SIEM Dashboard (Security Information and Event Management) menampilkan jutaan baris data yang mengalir seperti hujan digital. Matanya yang tajam, seputih pisau laser, menangkap pergeseran statistik yang tidak masuk akal.

“Kalian merayap di dalam BIOS-ku…” bisiknya, suaranya parau penuh ancaman. “Terlalu percaya diri. Terlalu berisik.”

2. The War Room – Quantex Division

Protokol ‘Black Echo’ aktif seketika. Ruangan yang tadinya senyap kini dipenuhi desis frekuensi tinggi dari server yang bekerja di batas maksimal. Ini bukan sekadar serangan brute force. Ini adalah Advanced Persistent Threat (APT).

Luca Dorneanu, mantan arsitek serangan siber militer, menghantam keyboard-nya. “Mereka menanamkan payload langsung ke level firmware. Ini bukan pekerjaan botnet. Ini operasi manusia. Ada emosi di tiap baris kodenya… ini personal.”

Wajah Dej mengeras. Ia melihat pola enkripsi yang familiar—sebuah variasi dari algoritma yang seharusnya ikut terkubur bersama kematian Gan Kek Lie.

“Sial,” desis Dej. “Dia bangkit dari kubur. Don Hacker kembali.”

3. Menjebak si Penjebak – The Honeypot

Quantex tidak membalas dengan menghancurkan koneksi. Mereka melakukan sesuatu yang lebih licik: Digital Gaslighting.

Mereka membiarkan pintu backdoor terbuka, namun mengalihkannya ke sebuah Honeypot—sebuah replika server palsu yang dirancang sesempurna mungkin. Di sana, mereka menyajikan “umpan” berupa folder bernama 📂 DeepVault_Politik-Asia-Finance_SECURELOGS.bak.

Di balik keindahan folder itu, tersembunyi Dragon Thread Protocol. Sebuah Reverse Shell yang menunggu untuk “menggigit” balik terminal siapa pun yang mencoba mengunduhnya.

4. Markas New York – 02:14 AM

Di sebuah ruang bawah tanah di New York, lima monitor memandikan wajah Chia Hui dengan cahaya biru pucat. Jarinya menari dengan presisi seorang pianis maut.

“Gotcha… Don, lihat ini. Mereka menyimpan jejak pencucian uang Asia Tenggara sampai ke Swiss,” ucap Chia Hui, napasnya memburu.

Don, yang berdiri di kegelapan sudut ruangan, menyipitkan mata. Instingnya berteriak. “Tunggu, Chia. Latensi-nya terlalu stabil. Ini terlalu gampang…”

Belum sempat Don menyelesaikan kalimatnya, layar keempat Chia Hui meledak dalam rentetan peringatan merah: 📴 CONNECTION INTERRUPTED. 📉 LOCAL ACCESS LOST. 📂 ROOT COMMAND EXECUTED BY REMOTE.

Layar berubah hitam pekat. Lalu, satu baris kalimat muncul dengan lambat, seolah diketik oleh malaikat maut:

👁️ WE SEE YOU NOW. – QX

5. Serangan Psikologis

Pagi harinya, sebuah paket tanpa nama tergeletak di depan galeri seni milik Chia Hui. Di dalamnya bukan bom, melainkan sesuatu yang jauh lebih menghancurkan:

  1. Flash Drive Titanium: Berisi rekaman video sudut pandang drone saat malam pembantaian Gan Kek Lie. Di sana terlihat jelas, ayahnya tidak mati oleh peluru nyasar, melainkan dieksekusi dengan presisi.
  2. Foto Polaroid: Wanita misterius yang selama ini menghantui mimpi Chia Hui, sedang duduk santai menikmati kopi bersama Marius Dej di sebuah kafe di Praha.

Tangan Chia Hui bergetar hebat. Jantungnya terasa seperti dihantam palu godam.

“Wanita itu… dia bagian dari mereka?” suaranya pecah. “Selama ini… kematian ayahku hanyalah pion dalam permainan papan mereka?”

Don mendekat, meletakkan tangan di bahu Chia. “Ini bukan lagi soal breach data, Chia. Mereka sedang melakukan Social Engineering pada jiwamu. Mereka ingin memecahkanmu dari dalam sebelum kita sempat menyerang.”

6. Deklarasi Perang: Rencana ARES

Keheningan di ruang bawah tanah New York terasa lebih berat dari biasanya. Tidak ada lagi ketikan keyboard. Hanya ada tekad yang membeku.

Don membuka sebuah folder tersembunyi yang terkunci dengan enkripsi AES tingkat militer. Nama filenya: ARES:FinalPhase.qproj.

“Kita tinggalkan cara-cara halus,” suara Don terdengar dingin, tanpa ampun. “Sekarang kita masuk ke Rencana ARES. Kita tidak akan meretas sistem mereka. Kita akan menghancurkan seluruh ekosistem hidup mereka. Kita akan berburu sampai ke akar, sampai tidak ada lagi tempat bagi mereka untuk bersembunyi di balik bayangan.”

Chia Hui mendongak, matanya yang tadi berair kini kering dan tajam. “Dan perempuan itu… aku akan menemukan matanya. Aku ingin dia melihat kematiannya sendiri di dalam mataku.”

Bab Berakhir dengan suara kipas server yang menderu, menandakan dimulainya perang total.

…. To be continued

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *